This is default featured slide 1 title

Berbagi Informasi dalam dunia maya gratisant.blogspot.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label pendakian. Show all posts
Showing posts with label pendakian. Show all posts

Thursday, May 17, 2012

Pendakian Gunung Salak via Cimelati

     Gunung Salak memiliki tujuh puncak. Hanya dua puncak yang sering didaki, yaitu puncak Gunung Salak I (2800 mdpl) dan Puncak Gunung Salak II (2211 mdpl).Gunung salak memilik medan pendakian yang menantang.
     Untuk melakukan pendakian menuju Puncak I, ada beberapa jalur pendakian yang dapat di lalui, seperti jalur Cimelati, jalur Cangkuang, dan jalur Jaya Giri. Jalur yang sering digunakan adalah jalur Cimelati. Untuk sampai di Cimelati dari Terminal Baranangsiang, Bogor pilih bus jurusan sukabumi dan turun di Cimelati, perjalanan memakan waktu 1 jam. Dari Cimelati ke Puncak 1 dapat ditempuh dengan waktu 9 jam. Selama perjalanan ada 3 buah air terjun, tetapi hanya dinikmati waktu musim hujan saja.

Hutan Damar – Pos II
Setelah melapor di Pos Lapor I dengan mengikuti jalan aspal akan membawa kita sampai di Pos Lapor II dari sini menuju Hutan Damar tidak jauh sekitar lima menit. Di pos lapor II ini kita bisa isi persediaan air minum sebelum memulai pendakian. Dari hutan Damar ini pendakian dimulai, jalan setapaknya menanjak tidak begitu curam keluar dari hutan damar akan bertemu dengan perladangan penduduk. Dan setelah itu baru memasuki hutan. Keadaan jalan setapak sangat jelas, dan tidak begitu menanjak hingga sampai di Pos II. Jarak tempuh normal dari Hutan Damar hingga ke Pos II sekitar 50 menit. Hutan Damar ini berada pada posisi  6º 44” 31.4’ LS dan 106º 45” 24.2’ BT  dengan ketinggian 823m dpl

Pos II – Sumber airPos II tidak ada pondok dan hanya sebuah tanah datar berumput yang kecil, plang penunjuk Pos II dipakukan pada sebuah pohon. Dari sini jalan setapak masih tidak begitu curam akan tetapi begitu memasuki kawasan hutan lebih jauh lagi jalan mulai menanjak, saat bertemu pertigaan selalu ambuil jalan yang lurus jangan belok ke kanan atau ke kiri. Kondisi jalan setapakpun sudah terdisi dari tanah lembab yang dipenuhi oleh akar-akar pohon yang melintang. Tidak begitu lama kemudian kita akan sampai di sumber air, sumber air ini berupa pipa yang dibolongi, ini adalah sumber air terakhir  dari sini tidak ada lagi sumber airnya hingga sampai di puncak. Dari Pos II hingga ke Sumber air waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Pos II berada pada posisi  6º 44” 01.5’LS  dan 106º 45” 03.4’ BT dengan ketinggian 1133m dpl

Sumber Air – Pos III
Di sumber air ini ada tanah datar yang bisa dipakai untuk mendirikan satu tenda, dari sini jalan setapak da bercabang kiri, kanan dan lurus. Ambil jalan yang mendaki lurus, memang kondisi jalan setapaknya mengecil dan basah. Tidak ada yang terlalu istimewa kondisi jalan setapak yang cukup jelas dipenuhi oleh akar pohon. Jarak dari sumber air ke Pos III memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sumber air berada pada posisi  6º 43” 44.7’LS dan  106º 44” 45.9’BT  dengan ketinggian 1329m mdpl

Pos III – Pos IVPos III berada pada posisi 6º 43” 30.6’LS dan 106º 44” 35.0’BT dengan ketinggian 1568 m dari permukan laut. Pos III ini merupakan sebuah dataran yang di penuhi oleh akar-akar pohon. Dan jika dilihat sepintas tidak terlihat seperti pos karena terletak ditengah jalur setapak. Tidaka ada plang tulisan yang menunjukan nama Pos III. Jalan setapak menuju pos berikutnya terlihat jelas pada ujung pos III ini, dan perjalanan dari Pos III menuju pos IV memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit.

Pos IV – Pos VPos IV berada pada medan yang cukup miring plang tulisan Pos IV nya di pakukan pada sebatang pohon yang cukup besar. Keadaan hutan di lokasi ini cukup rapat sehinga susah sekali mendapatkan data posisi lokasi ini dari GPS. Jalur pendakian masih jelas terlihat emnuju pos berikutnya yaiu pos V. Waktu tempuh menuju Pos V dari Pos IV adalah sekitar 2 jam

Pos V – Pos VIPos V  merupakan sebuah pos yang kecil sekali dan berada ditengah jalur setapak. Posisi geografis pos ini ada pada 6º 43” 16.2’LS dan 106º 44” 18.7’BT. dengan ketinggian 1942 m dari permungkaan laut. Tidak ada yang istimewa pada pos ini dan dari pos ini jalan setapak menuju pos VI mengecil namun jelas terlihat. Dari Pos ini menuju Pos VI waktu tempuhnya sekitar 1 jam.

Pos VI – Puncak Salak I
Pos VI berada pada tikungan kekanan dari jalan setapak. Pos ini juga tidak besar dan tidak ada yang istimewa pada pos ini. Posisi geografis pos ini berada pada 6º 43” 12.3’LS dan 106º 44” 13.1’BT. Dengan ketinggian 2016 m dari permukaan laut. Pos VI ini merupakan pos yang terakhir sebelum mencapai puncak. Keadaan jalan setapak kenuju puncak kecil dan jelas dengan akar pohon yang masih banyak terlihat di jalan setapaknya.
Dari Pos ini menuju puncak memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jalur dari Cimelati ini akan muncul didekat seberang dari jalur pendakian dari Cidahu. Jalan setapak dari jalur Cimelati ini berakir di dekat pondok yang ada di puncak Salak I. (www.highcamp.info)



 

Monday, April 16, 2012

Pendakian Gunung Agung Via Pura Besakih

               Gunung Agung Terletak di Pulau Bali, memiliki ketinggian 3142 m dpl,. Untuk mendaki gunung ini dapat menggunakan tiga jalur yaitu. Di sisi barat daya gunung agung yaitu jalur pura besakih, di sisi selatan jalur sangkan kuasa, di sisi tenggara jalur Budakeling, di sisi utara gunung agung jalur pura pasar agung. Jalur yang saya gunakan pendakian kali ini adalah jalur Pura Besakih, dari sisi Barat Daya.
                Kalau waktu tahun 2009 di gunung agung tidak ada basecamp pendakian, jadi kita ngurus perijinan di Pos Polisi dekat pura besakih, kalau tidur pun gak di perbolehkan dikantor polisi, kata bapaknya se “ takutnya nanti kalau ada pengecekan dari atasan mas,,” gtu, ya uda tidurnya di suru ke tempat peralatan musik di depan pura besakih. Gunung Agung merupakan salah satu gunung yang sakral, saat pendakian tidak di perbolehkan membawa bahan dari kulit sapi, membawa makanan yang berbau sapi, seperti abon sapi, atau cornet, atau apalah, pokoknya segala yang dari sapi tidak di perbolehkan. Sebenarnya saya pribadi tidak percaya dengan yang kayak gituan, tapi memang waktu saya naek ada kejadian yang tidak di inginkan, gara2 melanggar peraturan itu. Simak ceritanya..
                Saya berangkat dengan 8 orang, 2 orang dari mapala aesthetica istn Jakarta, dan 5 orang dari teknik kimia UI, 1 orang guide. Disana di wajibkan pake guide, sekali pake ongkos saat 2009 yaitu 350rb/4 org,  tapi kita di perbolehkan 350rb/8 org, (mohon2 sambil melas2 se,,hhe), jadi per orang kena Rp 37.rb,- . Berangkat  dari Pos Polisi Pura Besakih pukul 13.00, track uda nanjak dengan suasana ladang trz berganti dengan hutan, Cuma gak terlalu lebat, jam 14.00 saya sudah sampai di Pura 
                Pengubengan, di situ kami masak2 dlu (ngopi sama ngeteh lah, dan gak lupa gudang garam,,hhe).  Dari Pura Pengubengan kita lanjutkan menuju tempat camp, ( lgsung di track sama guidenya,,). Sampai tempat camp jam 22.00, tempatnya bukan di pos tapi di tengah jalan, masih di bawah Kori Agung. Orang waktu itu si guide juga g jelasin tentang nama2 tempatnya, atau posnya mana aja. Acara berlanjut makan malam dan tidur. Paginya kita bangun terlambat pukul 06.00, jadi kita ngisi perut dulu, trz jam 07.00 langsung track ke puncak. Sekitar 30 menit kita sudah sampai di Kori Agung, di situ ada batu besar dan ada sebuah cerukan untuk berlindung dari angin. Dari batu besar ke plawangan di tempuh dengan waktu 45 menit. Dari Plawangan kepuncak dengan jalur batu dan kiri-kanan jurang, di sertai dengan angin yang kenceng, nyampe puncak 1 pukul 10.30, gak nyampe 30 menit uda sampai ke puncak 2. Lah waktu disini ada perdebatan antara guide dan kita, katanya se guide “ kita g bias ke puncak yang ketiga dikarenakan punggungan jalur kesana uda patah, lagian cuaca juga g mendukung cz angin kenceng..”, tp kita te2p bersikeras pengen kesana. Akhirnya dengan segala pertimbangan, dan dengan  berat hati, kita batalkan rencana kepuncak yang ketiga..huhu. dari puncak ke 2 kita dapat melihat gunung rinjani, serta pemandangan yang laen. Setelah acara dipuncak selesai kita berlanjut turun ke tempat camp. Seperti biasa, sebelum turun kita isi perut dulu biar gak laper di tengah jalan. Jam 14.00 kita mulai turun dari tempat camp ke pura pengubengan, Jam menunjukkan pukul 23.00 sampai di pura pengubengan. Itu lama di karenakan ada salah satu dari rombongan yang sudah tidak kuat jalan, jadi jalannya pake pantat alias ngesot..hhe. terus ada kejadian, dompet temenku yang ngesot itu ilang, mungkin jatuh y, karena dompet di taruh di saku belakang celana. Dia bilang kalau dompetnya itu dari bahan kulit sapi, apakah itu dikarenakan dia melanggar peraturan,.apa mungkin gara2 dari kulit sapi trz ilang atau mungkin emang uda takdirnya ilang , gak tau persisnya, yang saya tau dompetnya ilang gitu aj,,hhe. 
                Akhirnya kita rembugan dulu, dan malem itu juga dompet pun di cari, sama si mas guide dan salah satu orang dari Tek Kim UI. Mereka mencari dari Pura Pengubengan-Tempat camp-Pura Pengubengan. Sambil nunggu mereka nyari, kita tidur di pura pengubengan. Pagi mereka uda samapi ke pura Pengubengan, tapi tidak ada hasil, dompetnya tidak ketemu. Mereka 5 orang dari Tek Kim UI memutuskan untuk tetap tinggal di pura Pengubengan karena besok masih mau nyari dompet yang ilang itu (isinya uang 500rb + ATM se,,). Dan saya dan 2 teman dari ISTN memutuskan untuk turun ke Pura Besakih duluan, karena memang bekal kita uda habis.  Setelah seharian semaleman ditungguin akhirnya mereka sampai juga di pura besakih, dengan hasil yang sama, dompetnya tidak ketemu..(sayang y 500rb melayang..hhe). Y sudahlah di ikhlasin aja. Akhirnya pendakian berakhir dan kita kembali berpisah, saya dengan 2 teman ISTN, langsung nyebrang ke jawa. Cerita berlanjut ke pendakian berikutnya..C_U..

Pendakian Gunung Argopuro via Baderan

           Gunung Argopuro dalam pangkuan pegunungan Hyang dan di apit oleh 3 kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember dan Kabupaten Situbondo. Gunung yang memiliki ketinggian 3088 mdpl ini mempunyai 2 puncak yaitu pucak rengganis dan puncak argopuro. Ada 3 jalur pendakian, Yang pertama dari Probolinggo, Bremi, yang kedua dari Situbondo Baderan, yang ketiga dari Jember ,Tancak. jalur yang jarang dilewati para pendaki, biasanya jalur ini di pakai buat diklat mapala2 sekitar. Untuk pendakian kali ini saya menggunakan jalur Baderan turun Bremi. Jalur terpanjang adalah jalur dari selatan yaitu dari Jember, Tancak karena ditempuh dalam waktu kira-kira 1 minggu untuk menuju Puncak.
Berangkat dari Semarang seorang diri, pukul 01.30 dari semarang stasiun poncol naek kereta api kerta jaya tujuan akhir st pasar turi Surabaya, ongkos tiket waktu itu 28rb. Sampai di st Pasar Turi Surabaya pukul 07.00, di stasiun saya sudah dijemput sama temen saya dari Mapala Monsilva Uwika, karena kereta tujuan ke Jember berangkat pukul 16.10, jadi untuk mengisi waktu siang saya di ajak muter-muter Surabaya sama temen saya. Pukul 16.10 saya mulai berangkat dari St Gubeng Surabaya tujuan St Jember ditempuh dalam waktu 5 jam dengan ongkos Rp 18.500,-. Sampai di St. Jember temen saya sudah nunggu , langsung saya di bawa ke basecamp Mapala UMJ, untuk beristirahat.
         Pagi hari kami berangkat menuju Gunung Argopuro 20 orang, ngangkot..(jadi transit-transit,,hhe). Berangkat dari Univ. Muhammadiyah Jember dengan menggunakan angkot menuju ke Terminal Arjasa dengan ongkos 3rb / org, dari Terminal Arjasa Menuju Bondowoso dengan ongkos 4rb/org, dilanjutkan ke Besuki menggunakan bus ongkos 6rb/org, dari Besuki menuju Baderan menggunakan mini bus dengan ongkos 8rb/org. Setelah nyampe di Baderan pukul 14.00 kami langsung menuju basecamp pendakian jalan kaki, kami pun langsung beristirahat untuk mempersiapkan kondisi fisik buat pendakian esok hari.
             Berangkat dari basecamp pendakian pukul 08.00, menuju ke Mata Air 1,dengan trek yang terjal dan panas, keadaan sekitar masih ladang warga waktu tempuh kira-kira 3 jam. Di Mata Air 1 ini kami langsung mendirikan tempat camp, padahal waktu masih siang hari. Di sebelah kanan lahan kosong disebelah kiri agak turun curam ke bawah ada sungai jadi kami bisa ambil air dari sana. Paginya dari Mata Air 1 kami melanjutkan perjalanan menuju Mata Air 2 dengan waktu tempuh kira-kira 2,5 jam dengan rute yang tidak terlalu menanjak. Mata Air 2 ke Mata Air 3 dapat di tempuh dengan 1 jam perjalanan. Dari Mata Air 3 kami lanjutkan perjalanan menuju ke Sabana Kecil, di tempuh dengan waktu 2 jam perjalanan, dari sabana kecil kami lanjutkan perjalanan menuju sabana besar dengan waktu tempuh 1 jam perjalanan. Dari sabana besar kami lanjut menuju ke Cikasur dengan waktu tempuh kira-kira 1 jam, Cikasur ini lah yang nantinya akan dijadikan tempat bermalam, karena memang tempatnya luas, dan di situ juga ada bekas landasan pesawat militer pada mas invasi Jepang yang juga digunakan sebagai tempat pendaratan logostik.
                Dari Cikasur kami berangkat pukul 09.00 dengan tujuan menuju Cisentor, jalan menanjak dan kadang mendatar dengan sekitar medan dikelilingi oleh padang ilalang. Sepanjang jalan ke Cisentor banyak terdapat kubangan dan bekas jejak babi hutan baik yang lama maupun yang baru terjadi.untuk sampai di cisentor dibutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan. Di Cisentor ini kami mendirikan tempat camp lagi buat bermalam sebelum esok summit kepuncak Rengganis dan Argopuro, di cisentor ini ada bangunan tua atau gubug, yang masih layak pakai, dan dibawah ada sungai, jadi akses air juga mudah. Malam pun kami habis kan dengan menghangatkan diri dekat api unggun sampil maen kartu,,hhe.
               Pukul 08.00 kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Rawa Embik. Cuma barang- barang pendakian kami tinggal di Cisentor, jadi Cuma bawa tas kecil berisi makanan dan minuman secukupnya. Hati-hati selama perjalanan karena kadang-kadang dikanan kiri jalan disuguhin sama tumbuhan penyengat atau jelatang (djancukan,tretep,,). Setelah 1 jam 30 menit jalan kami pun sampai di Rawa embik, di Rawa Embik juga ada sumber air, Cuma tempatnya kurang strategis kalau di buat tempat camp, karena jalur turun menuju Bremi dari Cisentor, dari pada bawa barang pendakian menuju Rawa Embik mending barang pendakian ditinggal di Cisentor. Tempatnya juga luas, dengan di kelilingi hutan yang lebat. Perjalanan kami lanjutkan menuju persimpangan puncak Argupuro-Puncak Rengganis, ditempuh dalam waktu 30 menit, kalau lurus ke puncak rengganis dan kalau ke kanan ke Puncak Argopuro. Dari persimpangan kami memilih untuk ke puncak Rengganis terlebih dulu, 1 jam perjalanan kami sudah nyampe di Puncak Rengganis. Keadaan dipuncak Rengganis waktu itu kabut, jadi gak bisa lihat pemandangan sekitar, bisa melihat cuma jarak 3 meter, kami langsung buka makanan dan minuman buat pengganjal perut. 1 jam kami dipuncak, kami langsung menuju ke tempat bersejarah, istana Rengganis. Perjalanan kami lanjutkan menuju Puncak Argopuro, jadi balik lagi ke persimpangan, kalau dari arah puncak Rengganis untuk ke Puncak Argopuro di persimpangan ambil kiri, jalan terjal menanjak dan berbatu,kira-kira 1 jam perjalanan kami sudah nyampe di Puncak Argopuro, puncak Argopuro berukuran kira-kira 8x8 m, ada tumpukan batu.
Pukul 14.00 kami pun bertolak menuju Cisentor untuk bermalam lagi disana. Esok harinya kami perjalanan turun ke Bremi, di tengah perjalanan. Karena waktu sudah sore kami bermalam di Danau Taman Hidup, danau ini cukup luas, banyak warga Bremi yang mancing di danau ini, mungkin untuk sekedar mengisi waktu luang. Pagi pukul 09.00 kami bergegas turun ke Bremi (packing2 dulu pastinya,,). Sampai di Bremi pukul 13.00, kami langsung cari kendaraan Colt carteran, untuk menuju ke Probolinggo. Dari Probolinggo dilanjutkan naek bus menuju terminal Tawang Alun.Terus dilanjutkan naek angkot menuju basecamp Mapala UMJ.

PENDAKIAN GUNUNG RAUNG (14-15 Agutus 2009)


            Gunung Raung terletak di antara kabupaten Banyuwangi, kbupaten bondowoso, kabupaten situbondo, dan kabupaten jember. Gunung ini memiliki ketinggian 3332 m dpl.Jalur yang saya gunakan pendakian adalah jalur sumber wringin, yang berada di Dusun Sumber Wringin, Desa Sumber Gading, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Bondowoso.

                  Perjalan menuju basecamp pendakian saya di antarkan pake mobil sama 4 org temen ari mapala Unibo. Karena memang yang punya basecamp pendakian anak mapala unibo namanya Cadas, jadi perijinan saya gratis, dan dapet makan malam gratis pula,,hhe.Pendakian saya di temani 1 orang teman dari mapala UMJ bernama Leder. Berangkat dari basecamp pendakian menuju pondok motor pukul 08.00, kita jalan kaki dari basecamp, sebenarnya bisa naek ojek ataupun numpang truk COLT, Cuma pas saat itu g ada Colt lewat, jadi mau g mau y jalan kaki,,hhe. Trek datar berbatu atau disana di sebut makadam, sampai di pondok motor. vegetasi hutan pinus, ladang jagung, di tengah jalan kita isi perbekalan air terlebih dahulu, karena itu sumber mata air terkahir, katanya se ada juga air di Pondok Sumur, tp katanya ngambilnya jauh dan untung2an. Perjalanan selama 2 jam 10 menit sampai pondok motor pukul 10.10. Istirahat sebentar, lalu kita lanjutkan perjalanan menuju pondok sumur, trek kadang datar kadang nanjak, tp kebanyakan nanjaknya,hhe. Jam menunjukkan pukul 14.00 kita sudah sampai di Pondok Sumur. Di Pondok sumur istirahat sambil buat teh anget, dan cemilan roti susu coklat,,hhe. Setelah perut terisi perjalan kita lanjut ke Pondok Tonyok, waktu tempuh 2 jam 45 menit, lanjutkan ke Pondok Demit, waktu tempuh 45 menit. Di Pondok Demit inilah kita mendirikan tenda untuk bermalam dan membuat api unggun.

                Esok paginya kita bangun pukul 05.00, sebelum berangkat ke puncak kita isi perut lebih dahulu, pukul 06.00 kita lanjut perjalanan ke Pondok Mayit, pukul 07.00 posisi sudah di Pondok Mayit, jadi waktu tempuh 1 jam. Setelah Pondok Mayit lanjut ke Pondok Angin waktu tempuh 30 menit, vegetasi edelweiss, pinus dan rumput ilalang. Dari Pondok Angin ke Puncak Raung waktu tempuh 30 menit, sampai di puncak pukul 08.00. sampai di puncak makan popcorn ( koyo nonton bioskop ae,,hhe), sama coklat silverquen, dan tak lupa isep gudang garam. Dari puncak raung kita bisa melihat pegunungan Argopuro, Kawah ijen, serta gunung2 lainnya..(yg kelihatan pastinya,,hhe). Pukul 09.00 kita bertolak ke tempat camp, Pondok Demit,sampai Pondok Demit kita makan siang dulu, biar perut gak kroncongan di jalan. Sampai di Basecamp pendakian pukul 16.00. Dilanjutkan langsung balik ke Bondowoso, tepatnya di Mapala UniBo (universitas Bondowoso).

Sunday, April 1, 2012

PENDAKIAN KAWAH IJEN

PENDAKIAN KAWAH IJEN (24-25 Desember 2010)

            Kawah Ijen, Jawa Timur, mempunyai ketinggian 2386 m dpl. Gunung ini terletak di Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, memang termasuk gunung yang pendek tapi memiliki keindahan yang amazing,,hhe. Yang saya tau Cuma ada satu jalur pendakian yang biasanya digunakan para pendaki atau wisatawan. Cuma untuk ke Paltidung ( tempat camp sebelum pendakian ke Kawah Ijen) ada 2 jalur, yaitu lewat Sasak Periot dari Banyuwangi, yang satunya lewat Sempol dari Bondowoso.

           Pemberangkatan saya mulai dari Jember, tepatnya di basecamp Mapala Bekisar Politeknik Negeri Jember pukul 14.00. Dengan 7 orang teman, dengan kendaraan motor , jadi bawa 4 motor. Benernya yang berangkat ada sekitar 30an orang, Cuma yang 22 orang temen uda pada berangkat duluan jam 09.00 pagi, jadi ceritanya kami 8 orang nyusul. 3 jam perjalanan kita sudah nyampe di rumah salah satu teman saya pukul 17.00, anak2 yang berangkat duluan uda pada nunggu disana. Karena memang rumahnya dekat dengan Paltidung, jd kami skalian mempersiapkan bekal makanan buat hari besok. Kami beristirahat sejenak disana, setelah jam menunjukkan pukul 21.00, kami 30 orang dengan 15 motor melanjutkan perjalanan ke Paltidung, jadi kayak ada konvoi,,hhe, Cuma 20 menit uda nyampe di Paltidung, kami mengurus perijinan, dari motor sampai ijin tempat camp, semua di kenakan biaya. Setelah kelar semua kami persiapkan peralatan masak, dan mendirikan 2 tenda, brarti sebagian ada yang tidur di luar.

         Bangun pukul 05.00, jam 06.00 kami langsung berangkat menuju ke Kawah Ijen, Jalur pendakian cukup lebar sekitar 2-3 meter, tapi kebanyakan nanjak. Selama perjalanan kami sering berpapasan dengan penambang belerang yang turun sambil memikul belerang yang kira2 beratnya 50 kg (emg org sana kuat2,,).Vegetasi hutan, tp juga masih ada rumah penduduk sekitar 1 jam jalan, gak banyak rumahnya, mungkin se rumah para penambang belerang. Pukul 09.00 kami sudah nyampe di bibir Kawah Ijen, dari sini bisa terlihat Danau Kawah Ijen, Gunung Merapi ijen, Gunung Raung, dan laut. Kami 4 orang memutuskan turun kekawah, karena pengen photo2 di bawah. Trek menuju kawah curam, dan berbatu, cuma cukup buat jalan satu orang, jadi kl b’papasan sama penambang terpaksa saya minggir dulu. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di kawah, kami gak bisa ke bibir danau karena asep belerang larinya ke arah sana, sedang kami gak pake kain penutup hidung dan mulut.jadi kami Cuma photo2 di batu2 kawah, dengan back ground asap belerang. Jam 11.00 kami turun ke Paltidung, nyampe di Paltidung kami pun packing , pukul 12.00 kami lanjut perjalanan pulang menuju Jember.




PENDAKIAN GUNUNG TAMBORA

PENDAKIAN GUNUNG TAMBORA

Tambora merupakan gunung yang mempunyai ketinggian 2851 mdpl. Salah satu gunung yang mempunyai kawah terbesar sedunia yaitu mempunyai diameter kira-kira 7 km. Secara adminiftratif terletak di kabupaten Bima Pulau Sumbawa, NTB. Untuk mendaki ke puncak tambora ada beberapa jalur, antara lain lewat sisi barat laut yang dimulai dari Labuan Kenanga. Bila dari sisi Timur, pendakian dimulai dari Oi Serangari. Dari sisi selatan adalah jalur yang pernah digunakan Van Rheden, seorang ahli geologi.Dari sisi Utara lewat Desa Pancasila. Jalur yang saya gunakan adalah jalur utara, karena jalur ini yang biasanya digunakan para pendaki.
                (Langsung aja ya,,biar gak kebanyakan basa-basi,,hhe)
                Awal keberangkatan, saya mulai dari Kota Dompu dengan seorang diri, tepatnya dari base camp Humpa (Pecinta Alam Dompu) yang saat itu mempunyai sekret di GOR Dompu. Dari sana saya di antarkan sama teman ke terminal…. Saya lupa nama busnya apa,hhe, Cuma biaya dari terminal sampe desa pancasila yaitu 2009 yaitu 30rb, ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam, dengan keadaan jalan yang sedikit bergelombang. Selama perjalanan kita akan disuguhin pemandangan yang indah,sebelah kiri pantai berjarak sekitar 20m dari jalan raya dan sebelah kanan padang rumput yang luas, dan terlihat kegagahan gunung tambora yang berdiri tegak menjulang (lebay..). Lahan padang rumput biasanya di manfaatkan oleh warga sekitar dengan memelihara ternak seperti kerbau. Memang mereka dilepas (biar mandiri,hhe),itu pun tidak di jaga sama si pemilik, jadi seperti kerbau liar, . Di tengah perjalanan bus akan berhenti sejenak di rumah makan, yang terletak di sebelah kiri jalan dan dibelakang rumah makan langsung pantai (mantaph, jadi habis makan langsung bisa renang,,hhe.). Tak selang berapa lama, kira-kira 2 jam saya sudah nyampe di desa pancasila waktu menunjukkan jam 19.00, saya langsung menuju ke kediaman Bp yusuf rumahnya tak jauh dari tempat turun bus,di dekat lapangan dan di depan rumah ada papan pemberitahuan base camp. Rumah Bp yusuf digunakan tempat base camp pendakian, jadi di sini saya mengurus semua perijinan,tidur dan mandi. Setelah saya masuk kedalam rumah dan kenalan terlebih dahulu pastinya,ngobrol-ngobrol (PDKT dulu lah,,) saya langsung dapet makan gratis (lumayan irit uang,,hhe).Perijinan saat itu Rp 10rb,-, karena saya tidak di perbolehkan naek sendirian maka di wajibkan saya membawa guide, (75rb/hari), bnernya se saya gak mau cuma y saya ngikutin aja, dari pada gak boleh naek, padahal uang yang di dompet tinggal 300rb,,hhe.10rb buat perijinan 150rb buat guide 2hari 100rb buat logistik, sisa 40 rb pas buat rokok sama ongkos bus pulang ke Dompu. Di desa Pancasila tidak ada ATM, jadi harus bner ngirit bawa uang di dompet,terus juga gak ada sinyal, paling2 yang ada Cuma simpati, tu juga agak susah dapetnya. Acara berlanjut tidur mimpi indah,,
                Esok paginya bangun jam 7 langsung ke pasar (kaya mak2 belanja,,hhe) buat membeli beberapa logistik 2 hari di gunung, terus packing. Dan jam 8 saya siap berangkat dengan guide dari penduduk Dusun Pancasila.  Pertama perjalanan pemandangan kanan kiri masi rumah warga, tapi setelah 45 menit kanan kiri kebon kopi yang sangat luas, pertengahan jalan saya dikagetkan sama 2 babi gedhe warna item yang b’henti ngalangin jalan, dikit kaget se, tapi gak sampe jantungan. Untungnya si mas guide bawa golok, jadi langsung diusir gitu aja, babi langsung masuk lagi kedalam kebun kopi tanpa perlawanan apapun ( ah ga seru y,,). Selama trek dikebun kopi masih banyak percabangan, jadi harus sering2 tanya orang biar gak salah jalur atau nyasar, (kalau ketemu orang se..). Sehabis kebun kopi langsung masuk ke vegetasi hutan yang lebat dengan tumbuhan yang tinggi2, ( dlm hutan masih banyak babinya juga, ati2 kena tabrak ntr..hhe). Setelah  satu setengah jam perjalanan waktu menunjukkan pukul 09.30 saya sampai di pos 1 (sumber mata air), saya pun mengisi ulang perbekalan air minum. Perjalanan dilanjutkan ke pos 2, di tempuh kira2 dua setengah jam, nyampe pos 2 pukul 12.00. Pos ini terletak di sebelah kiri jalan, dan ada bangunan gubugnya tapi sudah roboh, Cuma tinggal 2 tiang soalnya,,hhe. Di bawah pos 2 ada sungai jadi bisa isi ulang air minum, kata si mas guidenya se  pos 2 mata air terkahir, jadi ambil sesuai kebutuhan. Di pos 2 saya ketemu dengan 2 orang pendaki dari Jakarta yang nantinnya akan jadi temen nanjak di gunung Agung, tp mereka uda muncak duluan. Lanjut pukul 13.00 langsung ke Pos 3  (tempat camp), perjalanan sekitar 2 jam 20 menit, nyampe di Pos 3 pukul 15.20, Pos 3 terletak di sebelah kiri jalan, ada gubugnya masi kokoh, jadi bisa buat masak di atas gubug,,hhe, disebelah kanan pos 3 ada tempat camp juga yang biasanya dipake para pemburu kidjang. Acara pun berlanjut makan malam dan tidur.
                Pukul 02.00 dini hari saya melanjutkan perjalan menuju pos 4, dengan hawa yang dingin dan agak2 males jalan juga karena ngantuk,,hhe. Setengah jam perjalanan akhirnya sampai di Pos 4 jam 02.30 yang vegetasi hutan pinus. Hati- hati juga selama perjalanan ada tumbuhan penyengat atau jelatang atau djancukan. Perjalan berlanjut ke Pos 5 sampai pukul 03.30 dengan 1 jam perjalanan , di pos 5 ada bangunan gubug juga Cuma gak terawat dan tak layak pakai,,hhe. Perjalanan di lanjut ke puncak tambora waktu perjalanan 2 jam, dengan treck pasir dan batu, tapi kebanyakan datarnya, sampai di puncak pukul 05.30, jadi masi gelap. Tinggal nunggu sunrise, sambil ngrokok, soalnya dingin juga, kedalaman kawah kira2 1 km. Setelah sunrise dateng, yang pastinya langsung photo2 (jadi model dulu,,hhe). Jam 07.00 pagi saya lanjut turun ke tempat camp pos 3, packing langsung lanjut ke base camp pendakian. Sampai base camp pendakian pukul 20.00, karena kaki kiri saya penyakitnya kambuh dan jalan pincang, jadi turunnya agak lama,,hhe.
                Pagi bangun jam 06.00, bangun pagi karena memang bus yang ke Dompu berangkat pukul 06.30 an. Jadi gak mau ketinggalan bus.setelah sampe dompu pukul 13.00, tepatnya di terminal, saya sudah dijemput temen saya, langsung menuju ke base camp Humpa. Acara berlanjut istirahat..



Monday, March 26, 2012

Jalur Pendakian Gunung Arjuna dan Welirang via Tretes

Jalur Pendakian Gunung Arjuna dan Welirang via Tretes

            Tretes berada di desa pecalukan, terletak pada ketinggian 800 m dpl, merupakan tempat wisata dan hutan wisata. disini terdapat air terjun yang indah, yaitu air terjun kakek bodo. Di Tretes ini terdapat banyak villa, hotel, dan restoran. Tretes memiliki suhu yang sejuk, dan alam yang sangat alami.

Pendakian dimulai dari pos PHPA Tretes

Pos PHPA - Shelter 1 (Pet Bocor)
dapat ditempuh dengan waktu 30 menit, dengan melewati rumah 2 dan memasuki vegetasi hutan, di Pet Bocor biasanya digunakan orang untuk tempat camp, dan terdapat warung yang menjual kebutuhan logistik para pendaki.

Shelter 1 - Shelter 2 (Kokopan)
Dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan, dengan medan menanjak berbatu, di pos Kokopan tedapat juga warung di kiri jalan, tetapi warung ini kadang buka dan tutup, warung ini buka apabila saat musim pendakian.

Shelter 2 - Shelter 3 ( Pondokan )
Dengan waktu tempuh 4 jam perjalanan , dengan medan menanjak berbatu. di pondokan terdapat tempat luas dan beberapa pondok para penambang belerang dari welirang. di pondokan juga terdapat percabangan yang kiri menuju ke puncak arjuna dan yang kanan menuju puncak welirang. Di Pondokan juga terdapt sumber mata air yang bisa gunakan untuk memasak ataupun mandi. Pondokan merupakan tempat terakhir untuk mengambil air sebelum ke puncak welirang.


Pondokan - Puncak Welirang
Perjalanan ditempuh dengan waktu 2 jam, dengan vegetasi hutan cemara setelah hutan cemara sebagian medan undak2an batu atau batu yang tersusun rapi seperti tangga. Dibawah puncak ada sebuah kawah yang menyemburkan gas belerang, dan pada siang hari biasanya puncak tertutup dengan asap belerang.


Pondokan - Puncak Arjuna
dapat ditempuh dengan waktu 2,5 jam, dengan vegetasi hutan cemara. dan dalam perjalanan kita akakn disuguhi pemandangan rumput yang hijau sebelum lembah kijang. dan sebelum sampai dipuncak arjuna kita akan melewati Pasar Dieng, tingginya hampir sama dengan puncak arjuna, dan banya orang mengira kalau itu adalah puncak arjuna. Di Pasar Dieng ini terdapat tumpukan batu dan merupakan pertemuan jalur antara jalur tretes dan jalur karangploso, batu, selecta.


Sebenarnya ada jalur dari Puncak welirang ke Puncak Arjuna langsung yaitu melewati sebuah jurang dan pinggiran Gunung Kembar 1 dan Gunung Kembar 2, tanpa kembali ke pondokan. tetapi jalur tersebut jarang dilewati , kalau kurang megetahui medan, saya sarankan kembali ke pondokan untuk naek lagi ke Puncak Arjuna.

Sunday, February 26, 2012

Jalur Pendakian Gunung Merapi via Selo


              Jalur Selo adalah jalur yang sering dipakai pendaki untuk mendaki di gunung merapi. Karena jalur ini pendek dan lebih aman. Untuk mencapai desa selo dari muntilan dapat ditempuh dengan waktu 1 jam dengan menggunakan bus jurusan boyolali. selanjutnya dari selo menuju basecamp dapat di tempuh dengan waktu 30 menit. basecamp berada di desa plalangan, desa lencoh, kecamatan selo, kabupaten boyolali. perjalanan dari plalangan menuju pondok pendaki ditempuh selama 15 menit, melalui jalan aspal.

Pondok Pendaki - Pos 1
dapat ditempuh dengan waktu 35 menit, melalui perkebunan tembakau dan kol untuk kemudian memasuki hutan pinus.Mendekati Pos 1 kita akan melewati batu - batu besar.

Pos 1 - Pos 2
Dengan waktu tempuh 1 jam, dengan medan bebatuan yang terjal, dengan angin yang kencang. Dari pos 2 kita dapat menikmati pemandangan kota boyolali.

Pos 2 - Watu Gajah
dengan waktu tempuh 15 menit, dengan medan bebatuan. Disebut dengan watu gajah karena, batu besar menyerupai bentuk gajah.

Watu Gajah - Pasar Bubrah
dari watu gajah kepasar bubrah waktu tempuh 15 menit, dengan jalur yang datar dan berbatu. Dipasar bubrah biasanya dibuat tempat camp para pendaki sebelum mencapai puncak. biasanya para pendaki naek ke puncak pada waktu dini akhir, untuk dapat melihat matahari terbit dari puncak merapi.

Pasar Bubrah - Puncak
dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, dengan medan yang menanjak dan berbatu. Di jalur ini diharuskan pendaki pintar memilih batu yang digunakan pijakan, karena kalau salah pijakan, batu tersebut bisa longsor.

Jalur Pendakian Gn Sumbing via Garung


Jalur Garung
Rute
Kendaraan
Waktu Tempuh
Wonosobo – Garung
Bus
45 menit
Temanggung – Garung
Bus
1 Jam

            Jalur Garung memiliki 2 jalan untuk mencapai puncaknya, yaitu jalur lama dan jalur baru. Kedua jalur ini bertemu di persimpangan di bawah Pestan.

Menggunakan Jalur Lama
Basecamp – Pos 1
          Dimulai dari gapuro garung menuju masjid Al – Mansyur yang dapat ditempuh selama 30 menit. Dari masjid itu pilih tanjakan kea rah kiri sekitar 200 m dan kemudian melewati lading pertanian.  Dalam perjalanan menuju Pos 1 kita akan melewati sungai kecil.Setelah 1 jam perjalanan kita akan sampai di Pos 1, dengan pondok yang sudah rapuh di sebelah kiri jalan.

Pos 1 – Pos 2
          Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 membutuhkan waktu sekitar 1jam 30 menit, dengan medan yang menanjak. Di pos 2 terdapat pondok disebelah kiri jalan, pondok tersebut tidak terlalu kelihatan, karena masuk 5 meter dari jalan yang dilewati.

Pos 2- Pestan
          Dapat di tempuh dengan waktu 2 jam, dengan medan yang menanjak, dan berada diatas punggungan. Dalam perjalanan kita akan melewati Malim, sebuah memoriam yang berada dibawah pohon yang rindang dan kita akan melewati persimpangan antara jalur lama dan jalur baru. Di pestan memiliki tempat yang luas dan bisa digunakan untuk camp dari puluhan tenda, kalau missal hanya 1 atau 2 tenda saya saranan lebih memilih tempat camp di Watu Kotak, karena tempatnya yang tidak begitu banyak terkena angin. 

Pestan – Watu Kotak
       Dengan waktu tempuh 1 jam, dengan medan yang datar dan menanjak. Dalam perjalanan ke Watu Kotak kita akan melewati Pasar Watu.

Watu Kotak – Puncak
      Dengan waktu tempuh 45 menit, dengan medan menanjak dan berbatu. Dalam perjalanan kita akan melewati  Tanah Putih. Dari Puncak Sumbing kita juga dapat melihat kawah yang berada di tengah – tengah. Puncak memiliki ketinggian 3371 m dpl.

Jalur Pendakian Gn Sindoro via Kledung



Rute
Kendaraan
Waktu Tempuh
Wonosobo - Kledung
Bus
50 menit
Temanggung - Kledung
Bus
50 menit

Pertama pendakian dilakukan Dari basecamp Kledung,
Basecamp – Watu Gede
Dari basecamp pendakian dimulai dengan mengambil arah utara , menuju ke jalan setapak yang terletak di sisi kiri yang dapat ditempuh selama 5 menit. Dari jalan itu sampai watu gede membutuhkan waktu 10 menit.
Watu Gede – Pos 1
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam 30 menit, Jalan yang dilalui cukup lebar dan terbuat dari batuan yang tersusun rapi.  Kendaraan masih bisa sampai Pos 1.
Pos 1 – Pos 2
Dengan waktu tempuh 1 jam. Menuju Pos 2 dengan hutan yang tidak terlalu lebat. Kita akan menemukan simpang buntu, merupakan persimpangan, kalau ambil lurus buntu, sebaiknya ambil arah kanan, setelah melalui jalan menurun maka kita akan sampai pada sungai kering. Setelah berjalan mendaki kita akan sampai pada Pos 2
Pos 2 – Pos 3
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam 30 menit. Di Pos 3 dulunya ada sebuah pondok an, tetapi sudah tidak ada lagi. Di Pos 3 ini biasanya digunakan tempat bermalam untuk para pendaki, karena mempunyai tempat yang luas.
Pos 3 – Watu Tatah - Puncak
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, dengan 30 menit kemudian kita akan sampai padang edelweiss. Untuk sampai di puncak, memelukan waktu 30 menit lagi. Dipuncak sindoro kita dapat melihat kawah yang berada ditengah2, kalau musim hujan kawah tersebut dipenuhi dengan air, tetapi kalau musim kemarau, tidak ada air sama sekali. Dan dihimbau bagi para pendaki untuk menyiapkan air dari basecamp, untuk berjaga – jaga kalau di kawah tidak ada air sama sekali.

Thursday, February 23, 2012

Jalur Pendakian Gn Lawu Via Cemoro Kandang


           Jalur Pendakian dari Cemoro Kandang,Dari Solo dapat menggunakan bus arah tawangmangu, setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan minibus kea rah Cemoro Kandang. Dari Jawa Timur, menggunakan bus dari madiun ke arah Sarangan, dari sarangan menggunakan minibus lalu turun di Cemoro Kandang.
Pendakian dimulai dari
Basecamp – Pos 1
Dengan jarak sekitar 1,2 km dengan waktu tempuh 1 jam. Setelah melalui tangga batu maka kita akan memasuki vegetasi hutan. Di Pos 1 ini terdapat pondok untuk para pendaki, ada warung dengan jualan makanan.
Pos 1 – Pos 2
Dengan jarak 1,5 km yang dapat di tempuh dengan waktu 1 jam. Di pos 2 terdapat persimpangan, yang ke kanan menuruni jalur yang curam sampai sungai yang merupakan perbatasan jawa tengah dan jawa timur. Dengan menelusuri sungai ke arah hulu, sekitar 300 m kita akan menemukan kawah aktif dengan suaranya yang bergemuruh.
Pos 2 – Pos 3
Bejarak sekitar 2,6 km ditempuh selama 1 jam 45 menit. Di perjalanan kita akan melihat kawah2 kecil yang berada di jurang parang gupito dan jurang pangarip-arip.
Pos 3 – Pos 4
Dengan jarak 1,9 km dengan waktu tempuh 1 jam 30 menit. Diperjalanan kita akan melewati Sendang Panguripan Ondhorante. Ada 2 rute yang berkelok – kelokdan jalan terjal. Di Pos 4 terdapat pondokan yang bisa digunakan untuk bermalam para pendaki.
Pos 4 – Pos 5
Dengan jarak 1,5 km dapat ditempuh dengan waktu 50 menit dan dilanjutkan ke Hargo Dumilah dengan jarak 1,3 km waktu tempuh 1 jam.
Pos 5 – Puncak Hargo Dumilah
Setelah berjalan 5 menit dari Pos 5, maka kita akan menemukan persimpangan. Sebaiknya kita memilih jalur kanan karena lebih dekat. Jalur kanan di awali dengan tanjakan dan kemudian menurun 5 menit kemudian kita akan bertemu persimapangan lagi. Jika ambil arah kanan kita akan memasuki semak kemudian medan bebatuan yang berada di bibir kawah. Jika mengambil jalur lurus, perjalanan agak memutar.

Jalur Pendakian Gn Lawu Via Cemoro Sewu


          Desa Cemoro Sewu dapat dicapai melalui jawa tengah maupun jawa timur. Dari Solo untuk mencapai desa cemoro sewu dapat menggunakakn bus menuju tawangmangu dan dilanjutkan ke cemoro sewu menggunakan minibus. Sebelum sampai cemoro sewu, dalam perjalanan kita akan melewati desa cemoro kandang, salah jalur pendakian dari jawa tengah.
Jika dari Jawa Timur, dari Madiun menuju Sarangan dengan bus. Dari Sarangan menuju Cemoro Sewu dengan minibus.
Basecamp – Pos 1
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, dengan vegetasi hutan pinus dan ladang penduduk. Pos 1 terdapat pondok yang masih layak pakai. Bisa juga untuk tempat bermalam.
Pos 1 – Pos 2
Waktu tempuh sekitar  1 jam melalui hutan pinus dan hutan akasia sampai pada ketinggian 3000 mdpl. Di pos 2 terdapat pondok yang di depannya ada sebuah tebing. Tempat ini juga strategis untuk bermalam, Cuma tidak ada sumber mata air di Pos 2.
Pos 2 – Pos 3
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam 30 menit, di Pos 3 terdapat bangunan/pondok untuk beristirahat para pendaki, terletak disebelah kanan jalan.
Pos 3 – Pos 4
Dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, dengan medan yang menanjak, dan berliku. Dengan batuan yang sudah tersusun rapi. Perjalanan ke Pos 4 biasanya akan tercium bau belerang yang berasal dari kawah. Karena terletak di jurang kawah ini susah untuk di kunjungi.
Pos 4 – Pos 5
Pos 5 memiliki ketinggian sekitar 3000 mdpl, dapat ditempuh dengan waktu 30 menit, dengan medan yang datar. Pos 5 hanya tinggal rangka kayu.
Pos 5 – Pawon Sewu
Berjarak sekitar 5 menit perjalanan,
Pawon Sewu – Sendang Drajat
Dapat ditempuh dengan waktu 10 menit, di sendang drajat ini biasanya digunakan untuk bermalam para pendaki, karena banyak air yang berlimpah, dan ada warung yang jualan untuk kebutuhan logistik para pendaki.
Sendang Drajat – Puncak Hargo dumilah
Dapat ditempuh dengan waktu 10 menit, dengan medan yang menanjak. Para pendaki biasanya mulai puncak waktu dini hari, karena ingin melihat sunrise di puncak hargo dumilah.

Jalur Pendakian Gn Lawu Via Cetho



            Gunung Lawu terletak di dekat wisata Tawangmangu di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menuju Lawu terdapat sekitar 5 jalur pendakian. Yaitu jalur Cemoro Kandang, Candi Cetho, Tambak ( Jawa Tengah ) serta Cemoro Sewu dan Jogorogo ( Jawa Timur ). Umumnya jalur yang sering dilalui adalah Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu, sedangkan Jalur Candi Cetho, Jogorogo dan Tambak masih jarang dilalui pendaki. Ketiga jalur terakhir biasanya hanya digunakan pada saat - saat tertentu, seperti pendakian bulan Suro.

         Candi Cetho terletak di ketinggian 1400 mdpl dan secara administratif berada di Dukuh Cetho, Desa Gemeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karang Anyar Jawa Tengah. Desa Gemeng memiliki potensi wisata yang besar karena banyak terdapat candi dan juga pesona kebun teh yang memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan masyarakat Desa Gemeng banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Surakarta dan Jawa Timur dan juga ajaran agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar warganya.

       Akses transportasi menuju Candi Cetho bisa menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum sampai terminal Desa Kemuning lalu melanjutkan menggunakan carteran atau ojek menuju candi. Akses jalan cukup baik karena sudah diaspal. Di areal candi terdapat juga tempat penitipan kendaraan, warung - warung makan ataupun souvenir serta basecamp pendakianyang berada di rumah penduduk.


Jalur pendakian via Candi Cetho

Base Camp Candi Cetho menuju Pos 1 Reco Kethek ( patung kera ).

          Pendakian dimulai dari kompleks candi, keluar dari kompleks candi akan melewati sungai dan masuk areal tegakan pinus. Di bawah tegakan pinus ini terdapat Candi Kethek. perjalanan akan melalui punggungan yang tidak terlalu tejal. Vegetasi sekitar jalur masih didominasi oleh alang-alang ( Imperata cilindrica L. ) dan banyak dijumpai Puspa ( Schima wallichii Reinw ). Waktu yang dibutuhkan untuk mecapai pos 1 sekitar 1 jam. Terdapat bangunan semi permanen di Pos 1 ini.

Pos 1 Reco Kethek menuju Pos 2 Brak Seng.

Perjalanan masih menyusuri punggungan yang tidak terlalu terjal. Vegetasi mulai rapat yang masih didominasi oleh tumbuhan-tumbuhan bawah seperti Krinyu ( Euphatorium adoratum DC. ) serta Arbei Hutan ( Rubus spp. ) lama perjalanan menuju pos 2 sekitar 45 menit.

Pos 2 Brak Seng menuju Pos 3 Cemoro Dowo.

Perjalanan menuju pos 3 ditempuh sekitar 1 jam. Jalan yang dilalui cukup terjal dengan vegetasi sekitar jalur cukup rapat.

Pos 3 Cemoro Dowo menuju Pos 4 Penggik.

Tumbuhan bawah di sekitar pos 3 dihiasi oleh warna-warna bunga Pacar Jawa ( Impatiens platypetala Lindl ). Vegetasi sekitar jalur pendakian berupa rumput-rumput dan juga AkasiaGunung ( Acacia decurrent ). Perjalanan menuju pos 4 sekitar 1 jam.

Pos 4 Penggik menuju Pos 5 Bulak Peperangan.

Setelah lepas punggungan pos 4, jalan menuju pos 5 cenderung memutar. Setelah mencapai padang rumput Festuca nubigena Jungh jalan cenderung datar. Vegetasi sekitar jalur didominasi oleh Cemara Gunung ( Casuarina junghuhniana ).

Pos 5 Bulak Peperangan menuju Pos 6 Hargo Dalem.

Pos 5 masih terletak di padang rumput festuca, jalan menuju Hargo Dalem cenderung landai dengan haparan padang rumput di kanan-kiri jalur. pada akhir perjalanan menuju Hargo Dalem, dominasi vegetasi berganti menjadi Manis Rejo ( Vaccinium lucidum ). Terdapat sumber air, yaitu Tapak Menjangan yang hanya terisi air saat musim penghujan saja. Sumber air ini terdapat di jalur pendakian. Di Hargo Dalem terdapat banyak bangunan baik warung-warung ataupun tempat-tempat petilasan. Terdapat juga sumber air yaitu Sendang Drajat di dekat Hargo Dalem ini.

Pos 6 Hargo Dalem menuju Puncak utama Hargo Dumilah.

Jalan yang dilalui cukup terjal dan berbatu. hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencapai puncak. Di puncak terdapat tugu triangulasi.


Silahkan menuju Lawu, gunung yang tak aktif lagi lewat Jalur Candi Cetho yang tentu tak senyaman lewat jalur Cemoro Kandhang. Tetapi itulah petualangan, jika hanya ingin enak sebagai penggiat alam bebas, silahkan ambil bantal dan sarung lalu tidur pulas di kasur empuk kamar anda! Salam rimba Indonesia!
Sumber

Jalur Pendakian Gn Merbabu via Selo


Merbabu, gunung di Jawa Tengah yang berdampingan dengan gunung Merapi bisa di daki dari banyak jalur. Semua menarik dan tak membuat kepayahan jika di sertakan niat. Selain Merbabu adalah gunung yang ramah karena sudah merupakan gunung tak aktif lagi, juga Merbabu banyak menyimpan keindahan alam yang masih lumayan terjaga.  

Jalur pendakian Merbabu adalah antara lain, Cunthel, Thekelan, ( Kopeng / Salatiga )Wekas ( Kaponan / Magelang ) atau dari Selo ( Boyolali ). Kini jalur Selo yang akan kami bahas dan tunjukkan bagi pendaki yang belum pernah menuju Merbabu ataupun yang ingin melakukan variasi jalur selain jalur yang lain bagi yang pernah.


JALUR SELO

Kecamatan Selo masuk wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selo berada di tengah - tengah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi. Untuk mendaki ataupun turun gunung Merbabu lewat jalur Selo sebaiknya membawa pemandu atau harus ada pendaki yang pernah melewati jalur ini. Hal ini disebabkan karena banyaknya percabangan yang bisa menyesatkan pendaki.

Meskipun nantinya akan sampai di juga perkampungan, namun sulit sekali mencari kendaraan umum dan tidak ada sumber air. Selain itu jalur yang salah akan melintasi sisi jurang terjal yang sangat berbahaya. Air bersih agak sulit di dapat di Selo, penduduk desa Lencoh yang berada dilereng gunung Merapi untuk memperoleh air bersih harus menyalurkan air bersih yang berasal dari gunung Merbabu. Sehingga di Selo jarang terdapat losmen, hotel atau penginapan,pendaki biasa menginap di basecamp pendakian Gunung Merapi maupun Gunung Merbabu.

TRANSPORTASI

Perjalanan menuju ke Selo dapat ditempuh dari Magelang atau dari Boyolali. Namun kendaraan umum lebih mudah diperoleh dari Boyolali.

Selo dari Semarang dan Jakarta.

- Bus Jurusan Semarang - Solo atau Jakarta - Solo turun di terminal Boyolali.
- Dilanjutkan berjalan ke pasar Sunggingan ( Pasar Sapi ).
- Bus kecil dari Pasar Sunggingan ( Pasar Sapi ) Boyolali ke Cepogo / Selo.
- Bus kecil dari Pasar Cepogo ke Selo.

Selo dari Solo dan Surabaya.

- Bus jurusan Solo, Semarang atau Surabaya turun di RSU Boyolali, atau Surowedanan.
- Bus Kecil Surowedanan ke Cepogo / Selo.
- Bus kecil dari Pasar Cepogo ke Selo.

. Selo dari Jogjakarta.

- Bus jurusan Jogja - Solo turun di Kartasura
- Ambil bus jurusan Semarang, Jakarta, atau Boyolali turun Di RSU atau Surowedanan.
- Bus Kecil Surowedanan ke Cepogo / Selo.
- Bus kecil dari Pasar Cepogo ke Selo.

MEMULAI PENDAKIAN.

Pendakian di Selo biasanya di mulai dengan melakukan pendaftaran di Pos Polisi Pasar Selo. Kemudian Perjalanan selanjutnya untuk menuju ke basecamp Gunung Merbabu, dari Selo tepatnya dari kantor Polisi, pendaki harus berjalan kaki menyusuri jalan aspal ( + 2 km / 1 jam ), Pendaki mungkin perlu bertanya beberapa kali karena banyaknya persimpangan.

Pendaki dapat menyewa mobil bak terbuka sayuran atau ojek untuk melintasi perkampungan penduduk dan ladang - ladang yang berada di lereng - lereng terjal menuju ke basecamp. Truk tidak dapat mencapai basecamp karena adanya portal, dan jalan yang dilalui rawan longsor. Untuk pemanasan pendakian, berjalan kaki bisa menjadi pilihan yang lebih murah.

Di Kampung ini terdapat buah 3 rumah yang biasa dijadikan Basecamp sebelum memulai pendakian yang ditandai dengan banyaknya stiker kelompok Pecinta Alam. Rumah ini sangat besar sehingga mampu menampung puluhan pendaki yang menginap. Disini pendaki dapat beristirahat dan menitipkan barang - barang pribadi dan mengisi air untuk pendakian. di basecamp juga mnenyediakan makanan dan minuman, serta beraneka cendera mata juga dapat di peroleh di basecamp.



Basecamp - Mpitian ( + 1 Jam Pejalanan)

Dari Basecamp, pendakian diawali dengan melintasi area perkemahan yang sangat luas yang ditumbuh pohon - pohon pinus sehingga cukup rindang dan sejuk di siang hari. Agak landai kemudian mulai memasuki kawasan hutan. Jalur pendakian masih cukup landai, namun akan banyak dijumpai pertigaan, maupun perempatan jalur yang menuju ke perkampungan penduduk, maupun jalur penduduk mencari kayu bakar dan rumput, untuk itu tetap pilih jalur yang paling lebar. Berjalan sekitar 1 jam akan sampai di Mpitian yang berupa perempatan jalur.

Mpitian - Tikungan Macan ( + 1 Jam Perjalanan )

Dari Mpitian masih agak landai melintasi hutan akan berjumpa dengan sungai kering yang berisi pasir. Setelah menyeberangi sungai kering jalur mulai agak menanjak namun masih melintasi hutan. Setelah berjalan sekitar satu jam dari sungai kering ini jalur terjal sekali meliuk mendaki bukit dan sampailah kita di tikungan macan.

Tikungan macan - Batu tulis ( + 1 Jam Pejalanan )

Di Tikungan Macan ini kita bisa memandang ke bawah ke arah jurang yang masih diselimuti hutan yang lebat. Di tikungan Macan ini pendaki yang turun bisa kesasar karena jalur yang sebenarnya berada disisi samping bukan lurus ke bawah. Dari Tikungan Macan jalur mulai sedikit terbuka, namun masih melintasi hutan yang sudah tidak terlalu lebat lagi. Jalur mulai menanjak, setengah jam berikutnya jalur mulai agak sulit dan semakin terjal. Sekitar 1 jam dari Tikungan Macan pendaki akan sampai di Batu Tulis.

Watu tulis - Jemblongan ( + 1,5 Jam Perjalanan )

Batu Tulis adalah tempat terbuka yang cukup luas, di tengahnya terdapat sebuah batu yang cukup besar. Pemandangan indah di sekitar Batu Tulis bisa menjadi pengobat lelah. Banyak terdapat Edelweis yang tumbuh tinggi dan besar sehingga bisa digunakan untuk berteduh. Pendaki yang turun Gunung Merbabu, di Batu Tulis ini terdapat juga jalur alternatif yang kelihatan sangat jelas namun sedikit mendaki bukit. Jalurnya berbahaya melintasi punggungan yang sempit dengan sisi jurang di kiri dan kanan, sebaiknya tidak melewati jalur ini, tetaplah mengikuti jalur yang resmi.

Dari Batu Tulis medan mulai terbuka berupa padang rumput yang sangat terjal dan berdebu. Bila di musim hujan jalur ini licin sekali sehingga perlu perjuangan sangat keras untuk merangkak ke bergerak ke atas. Puncak Gunung Merbabu masih belum kelihatan, pendaki masih harus melewati empat buah bukit yang terjal untuk sampai di puncak Gunung Merbabu.

Sekitar 1 jam berjuang melintasi medan yang berat dan terjal pendaki akan sampai di puncak bukit, selanjutnya turun dan landai melintasi padang rumput. Pemandangan sekitar di Padang Rumput ini sangat indah, seperti bukit - bukit Teletubies. Sedikit naik bukit dan kemudian turun lagi pendaki akan sampai di Jemblongan yakni sebuah tempat yang banyak di tumbuhiEdelweis dalam ukuran besar dan rapat sehingga sehingga membentuk hutan yang rindang.  

Pendaki bisa beristirahat sejenak sambil tiduran di bawah rindangnya hutan Edelweis. Di sini adalah tempat terakhir yang bisa digunakan untuk berteduh dan beristirahat dengan nyaman, karena jalur selanjutnya berupa padang rumput terbuka yang kering dan sangat terjal, berdebu di musim kemarau dan sangat licin di musim hujan.

Jemblongan - Puncak Syarif ( + 2 Jam Perjalanan )

Dari Jemblongan kembali pendaki harus berjuang untuk mendaki bukit yang terjal, licin dan berdebu. Puncak Gunung Merbabu masih belum kelihatan karena tertutup Kukusan yang runcing dan terjal. Setelah berjalan sekitar 1 jam akan tampak puncak Gunung Merbabu. Pemandangan yang sangat indah di depan mata, sekaligus pemandangan yang mencengangkan, karena kita memandang jalur medan terjal yang harus kita tempuh untuk menggapai puncak gunung Merbabu.

Berbalik arah pemandangan ke arah Gunung Merapi juga sangat indah sekali. Bila kita berjalan dengan cermat sekitar sekitar 25 meter di sebelah kanan jalur akan kita temukan sebuah batu berlobang yang keramat. Sekitar 30 menit hingga 1 jam diperlukan perjuangan akhir dengan menapaki jalur padang rumput yang terjal dan berdebu untuk mencapai Puncak tertinggi gunung Merbabu. Setibanya di Puncak Gunung Merbabu, untuk menuju Puncak Kenteng Songo kita berjalan sekitar 10 menit ke arah Timur.

Di Puncak Kenteng Songo terdapat batu berlobang yang dikeramatkan masyarakat. Di puncak ini terdapat batu kenteng / lumpang / berlubang dengan jumlah 9 buah yang hanya bisa dilihat, menurut penglihatan paranormal. Mata biasa hanya melihat 4 buah batu berlobang.

PEMANDANGAN DI GUNUNG MERBABU

Pemandangan yang terdapat pada Gunung Merbabu dan sekitarnya sangat indah, terutama bila kita berada di puncak Gunung Merbabu. Sebelum kita membahas pemandangan dari dan di puncak kita akan membahas pemandangan Merbabu dari kaki gunung. Banyak terdapat gunung di sekitar Gunung Merbabu, diantaranya Gunung Merapi , Gunung Telomoyo , Gunung Ungaran.

Pemandangan yang sangat indah akan didapat sepanjang perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu. Sewaktu kita akan menuju Pos I pemandangan yang terlihat adalah hutan Gunung Merbabu yang berubah fungsi sebagai ladang dan kebun. Kebun yang kita lalui kebanyakan kebun sayur dan kebun Akasia.

Di jalur menuju Pos II kita banyak melewati pohon cemara jarum, pohon pinus dan pohon dengan daun - daun kecil, seperti putri malu.

Di jalur menuju pos III kita juga banyak melewati semak belukar. Di pos III ini terdapat Watu Gubug, sebuah batu berlubang yang dapat dimasuki 5 orang yang juga dikeramatkan penduduk sekitar. Konon merupakan pintu gerbang menuju kerajaan mahluk gaib. Watu Gubug ini penuh dengan coretan para "pecinta alam".

Di jalur menuju pos IV banyak semak dan di jalur ini juga akan terlihat Puncak Antena ( 2800 mdpl ). Di puncak ini terdapat sebuah pondok untuk mengukur cuaca. Dari sini juga puncak Kenteng Songo sudah terlihat jelas. Pemandangan dari puncak Antena sangat indah dan banyakpendaki membuka tenda di sini.


Di pos V ini di kelilingi oleh bukit dan tebing dan terlihat juga kawah Condrodimuko. Menuju puncak Syarif pemandangan yang indah ke arah Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro ,dan Gunung Sumbing. Dari puncak Kenteng Songo kita dapat memandang Gunung Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali.

Di arah Barat tampak Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro yang kelihatan sangat jelas dan indah. Lebih dekat lagi tampak Gunung Telomoyo dan Gunung Ungaran. Dari kejauhan juga tampak Gunung Lawu dengan puncaknya yang memanjang. Di puncak gunung ini terdapat padang rumput, bunga Edelweis, bukit - bukit berbunga yang sangat indah.

Bunga Edelweis hanya tumbuh di puncak pegunungan dan bunga ini terkenal karena keindahannya. Setelah sejumlah pohon yang dilindungi dijarah sekarang bunga yang dikenal sebagai bunga abadi ini dijarah habis - habisan oleh para oknum. Lokasi tempat bunga tersebut berada kini rata dengan tanah. Dalam ilmu botani, bunga tersebut terbentuk secara alami dari timbunan humus dan memerlukan waktu sedikitnya tahun untuk tumbuh dan berbunga. KiniGunung Merbabu kehilangan salah satu daya tariknya., lantaran Edelweis sudah tak tumbuh normal lagi.
sumber

 

Followers

Labels